Jumat, 02 Maret 2012

JIWA BARU IKRIMAH || waiman cakrabuana


Jiwa Baru Ikrimah
oleh: waiman cakrabuana

Seorang pemuda yang gagah dan pandai bertempur itu, kini memendam dendam tiada tara terhadap Rasulullah SAW dan Islam. Terutama ketika bapaknya “Abu Jahal” terkapar menjadi mayat di perang Badar, tewas ditangan Tentara Islam dibawah pimpinan Rasulullah SAW. Saat perang Badar, ia menjadi pasukan sayap kiri di front Tentara Musyrikin.

Ikrimah Bin Abi Jahal kini terjun dalam perang Uhud. Kini ia menempati sayap kanan Tentara Musyrikin, sementara kawan se akademisi militernya yaitu Khalid Bin Walid menempati sayap kanan pasukan musyrikin. Kemenangan dalam perang Uhud, membuatnya begitu senang seakan seperempat dendamnya sudah tersalurkan. Lebih-lebih, saat Rasulullah SAW (Panglima Perang Tentara Islam), dilaporkan mengalami cedera yang sangat parah.

Ketika Tentara Musyrikin Makkah, mengerahkan kabilah kabilah sekutunya untuk mengepung Madinah, Ikrimah kembali memegang peranan penting. Kali ini ia sangat berharap Umat Islam hancur sekali serang. Pecahlah Perang Ahzab (Perang Sekutu) atau disebut juga Perang Khandaq (Perang Parit).

Harapan besar “menggebuk” Umat Islam, ternyata menemui kenyataan pahit. Parit besar yang menganga, menghalangi Ikrimah dan pasukan tentara musyrikin untuk menyerang Madinah. Putus asa kini melanda Tentara Musyrikin, karena dalam perang Ahzab ini Tentara Musyrikin dan sekutu sekutunya kocar kacir di serang hawa dingin dan hujan lebat, serta banjir yang menghanyutkan logistik logistik perbekalan mereka.


Akhirnya mereka kembali ke Makkah sambil membawa kekalahan dan kekecewaan yang berat. Sebaliknya Umat Islam merayakan kemenangan Ahzab dengan suka cita. Lebih lebih saat Rasulullah SAW merubah strategi perang dari deffensif (bertahan) menjadi ofensif (menyerang).

Dendam yang sedikit terbayar di Uhud, kini kembali menguat setelah kekalahan perang Ahzab. Degup jantung amarah Ikrimah, semakin tidak terkendali, aliran darah kedendaman-nya semakin mengalir deras memanaskan isi kepalanya.

Parahnya, pasukan  Tentara Musyrikin kini dilanda ketakutan (kekalahan psikologis), tidak ada lagi keberanian melawan Tentara Islam. Abu Sufyan dan Ikrimah sudah habis tenaga memompa semangat dan keberanian tentaranya, tetapi tetap saja adrenalin keberanian tentara musyrikin tidak naik satu garispun.

Puncaknya disaat Futuh Makkah (operasi penaklukan Makkah) oleh Rasulullah SAW dan Tentara Islam. Tentara Musyrikin sudah kehilangan keberanian, mereka hanya menunggu apapun yang terjadi.

Tinggal Ikrimah Bin Abi Jahl yang masih menggelora semangat dan keberaniannya melawan Tentara Islam. Terjadilah pertempuran kecil. Celakanya, saat pertempuran kecil mempertahankan Makkah dari serbuan Umat Islam, ia harus berhadapan dengan mantan sahabatnya dulu, yaitu Khalid Bin Walid yang sudah lebih dulu masuk Islam. Pertempuran kecil itu dapat diselesaikan Khalid (tentara Islam) dengan cepat, karena Ikrimah tidak didukung penuh oleh keberanian total pasukannya.

Makkah akhirnya dapat dibebaskan dari cengkraman Musyrikin, pemerintahan syirik Hijaz kini runtuh ditangan Rasulullah SAW. Islam mencapai kemerdekaannya dan manusia kini lepas dari penjajahan sesama menuju penghambaan terhadap Allah SWT.

Rasulullah SAW memberi amnesti umum, mereka yang dulu memerangi, membunuh dan mengusir umat Islam semuanya diampuni. Rakyat yang dulu dalam kegelapan dan kedzaliman penguasa musyrikin Hijaz kini di terangi cahaya Allah yang menyebarkan keadilan dan kesejahteraan yang sempurna. Dijalan jalan bergema takbir, tahlil dan tahmid tanda suka cita dan syukur masyarakat kepada Allah SWT.

Tetapi ada 4 orang yang harus dieksekusi sesuai maklumat Pemimpin Tertinggi Negara Islam “Rasulullah SAW”: “Bunuhlah mereka meskipun kalian menemukan mereka sedang berpegangan pada kain Ka’bah.” Mereka adalah Ikrimah bin Abu Jahl, Abdullah bin Khothl, Maqis bin Shobabah dan Abdullah bin Sa’d bin Abis Sarh”

Sementara itu, Ikrimah melarikan diri ke luar negri dengan mengarungi lautan, karena ketakutan.


Dalam perjalanan, terjadi badai yang menggoyang perahu yang ditumpangi Ikrimah. Suasana dalam perahu menjadi panik seketika itu. Rupanya suasana inilah yang menjadi titik balik Ikrimah Bin Abi Jahl, ia berhasil disadarkan oleh salah seorang awak kapal agar ikhlash (bertauhid). Dan Ikrimah kini lunak hatinya dan bertekad masuk Islam. Ia berjanji akan menemui Rasulullah SAW jika sudah sampai daratan dan merasa yakin jika Rasulullah akan memaafkannya[1].

Ketika perahu itu selamat sampai daratan, Ikrimah turun, segera ia menemui istrinya “Ummu Hakim”. Dan Istrinya yang sudah lebih dulu masuk Islam sangat senang dengan kembalinya suami tercinta dari pelariannya. Ummu Hakim berhasil meyakinkan diri Ikrimah agar menghadap Rasulullah, karena Rasulullah pasti akan mengabulkan grasi (permohonan ampun) yang diajukannya.

Ternyata, apa yang diyakinkan istrinya adalah benar. Rasulullah membaiat Ikrimah untuk masuk Islam dan memberi pengampunan terhadap Ikrimah. Sehingga nama Ikrimah sebagai “buronan”dengan tuduhan penjahat perang dihapus dalam daftar.

Umat Islam bergembira, terlebih Khalid Bin Walid, mantan sahabatnya dahulu.  Menyambut “mutiara” yang terbenam dalam lumpur Jahiliyyah, kini berhasil dibersihkan dengan Tauhid. Sang Mutiara jahiliyyah kini menjadi Mutiara Islam. Ikrimah yang dahulu penentang dan musuh Islam sudah tiada, kini telah lahir Ikrimah Pahlawan Islam.

Kelak Ikrimah betul betul menjadi Pahlawan Islam. Syahadat yang dikumandangkannya telah menjadi tenaga REVOLUSIONER yang kuat yang mengubah IKRIMAH Musuh Islam menjadi IKRIMAH PAHLAWAN ISLAM.
Syahadat mengubah Ikrimah yang dahulu Musyrik menjadi tauhid, mengubah Ikrimah yang dahulu memusuhi Rasul menjadi Loyalis Rasul, Loyalis Pemimpin Islam.

(Insya Allah kisah Ikrimah ini akan dilanjutkan)


[1] riwayat yang shohih tentang keislaman Ikrimah radhiyallahu ‘anhu adalah apa yang diriwayatkan oleh an-Nasa’i rahimahullah dengan sanad shohih sebagaimana dikatakan oleh Syaikh al-Albani dalam Shohih wa Dho’if an-Nasa’i: 4067, yaitu sebagai berikut:
Dari Mush’ab bin Sa’d dari bapaknya berkata: “Saat Fathu Makkah, Rasulullah memberikan keamanan kepada manusia kecuali empat laki-laki dandua wanita, beliau bersabda: “Bunuhlah mereka meskipun kalian menemukan mereka sedang berpegangan pada kain Ka’bah.” Mereka adalah Ikrimah bin Abu Jahl, Abdullah bin Khothl, Maqis bin Shobabah dan Abdullah bin Sa’d bin Abis Sarh. Abdullah bin Khothl, dia ditemukan sedang berpegangan pada kain Ka’bah. Dia diserang oleh Sa’id bin Harits dan Ammar bin Yasir, hanya saja Sa’id lebih mendahului Ammar, sehingga dia lah yang membunuh Abdullah bin Khothl. Sedangkan Maqis bin Shobabah, dia ditemukan berada di pasar, maka dia pun dibunuh oleh banyak orang.
Adapun Ikrimah bin Abu Jahl, dia naik kapal di lautan, tiba-tiba datanglah badai, maka para awak kapal berkata: “Ikhlaskanlah (do’a hanya kepada Allah) karena tuhan-tuhan kalian tidak akan bisa berbuat apa-apa disini.” Maka Ikrimah berkata: “Demi Allah, jika tidak ada yang bisa menyelamatkan diriku dilautan ini kecuali keikhlasan (kepada Allah), maka tidak akan ada yang bisa menyelamatkan diriku di daratan kecuali Dia. Ya Allah, jika saya berjanji kepada-Mu, jika Engkau menyelamatkan diriku, saya akan datang kepada Muhammad, Lalu saya akan meletakkan tanganku pada tangan beliau, dan niscaya saya akan dapati beliau sebagai seorang yang pemaaf lagi mulia.” Lalu Ikrimah pun datang dan masuk Islam.” [HR.an-Nasa'i. Lihat pula ash-Shohihah: 1723]
»»  SELENGKAPNYA...

Selasa, 14 Februari 2012

:: REVOLUSI DIRI (Mush’aib Bin Umair) || Waiman Cakrabuana

Dia adalah seorang “pemuda perlente” yang menjadi pujaan kaum wanita di Makkah. Pemuda yang selalu hidup dengan semerbak Parfum, yang harumnya sering mendahului kedatangannya. Kepandaiannya berkomunikasi dan memecahkan masalah, menjadikan dia selalu ditunggu dikalangan pemuda Makkah saat itu, seakan akan pertemuan apapun tidak lengkap tanpa kehadiran pemuda perlente tersebut.

Dialah Mush’aib Bin Umair, pemuda terkemuka dikalangannya dan hidup bergelimang dengan kemewahan dan asuhan manja ibunya. Jadilah dia sebagai anak yang sangat mencintai ibunya diatas segalanya.


Dakwah Islam sampai ke telinganya, menembus memanah hingga ke akal budinya, diam diam akalnya menyetujui dakwah Islam. Menggetarkan jiwanya hingga, bergemuruh sambil membenarkan ajakan Islam yang langsung dibawakan oleh Rasulullah SAW. Mulutnya akhirnya bergerak sambil keluar suara haru KALIMAT SYAHADAT, tanda ia masuk Islam.

Revolusi total terjadi dalam diri Mush’aib, hingga terpilih menjadi Assabiqunal Awwalun / kader inti perjuangan (PIONER) gerakan Risalah. 


Ada sesuatu yang unik dalam dirinya. Dia adalah Pemuda pemberani, siap menghadapi musuh islam manapun, bahkan jika harus menghadapi para pendekar-pendekar Negara Hijaz seluruhnya. Tetapi jika harus berhadapan dengan ibunya, ia lumpuh tak berdaya, takut karena hormat dan sayang kepada Ibunya. Ketakutan kepada Ibunya yang sangat fanatic dengan idiologi BERHALAISME, menyebabkan ia harus menutup rapat-rapat eksistensi dirinya sebagai muslim.


Aktifitas dakwah dan intensitasnya mendatangi pusat gerakan rahasia yaitu di DAARUL ARQAM, rupanya diketahui oleh Badan Intelejen Negara HIjaz. Hingga setelah data awal indikasi keterlibatan Mush’aib dalam gerakan Risalah dipandang cukup, maka intelejen tersebut akhirnya membocorkan eksistensi Mush’aib kepada ibunya sendiri. 


Disidanglah Mush’aib di hadapan keluarga besarnya, termasuk ibunya. Kesempitan ini dimanfaatkan dan disulap menjadi kesempatan dakwah bagi Mush’aib. Mush’aib dengan penuh hikmah mengurai intisari keyakinannya yang di sertai argument wahyu yang tak terbantahkan.

Demi mendengar dakwah Mush’aib yang jelas, Ibunya semakin marah. Keyakinan idiologi berhalaisme ibunya, mendorong dia untuk menghantarkan pukulan dan tamparan keras kemuka Mush’aib. Tetapi ketika tamparan itu hendak mendarat dimuka Mush’aib, ditarik kembali tangannya, diurungkan niat untuk memukulnya. Mungkin rasa sayang ibunya, juga wibawa mush’aib yang memancar bak mentari dhuha, yang menyebabkan ia harus menarik kembali niatnya dan mengendalikan emosinya.


Tetapi rasa belanya terhadap idiologi berhalaisme ibunya, akhirnya sangsi berat untuk Mush’aib di berikan pula. Mualilah Mush’aib di boikot oleh ibunya, kemewahan yang selama ini digelontorkan kepada Mush’aib mulai ditarik, aktifitasnya juga dibatasi dengan sangat ketat. Tetapi Mush’aib bukannya berhenti berdakwah. Baginya, Dakwah adalah kehormatan dan jalan menuju kemuliaan, harga dirinya ada dijalan Dakwah Fi Sabilillah. Dia melawan terhadap tekanan ibunya. 


Suatu Revolusi diri yang berbalik arah 180 derajat. Anak manja yang sangat sayang dan disayang ibunya, kini harus berhadap-hadapan dengan ibunya dengan penuh permusuhan. Pemuda yang terbiasa dengan gemerlap kemewahan pemberian orang tuanya, kini harus hidup dengan sangat bersahaja, bahkan mungkin serba kekurangan karena diboikot total logistic oleh Ibunya. Kaum wanita yang dulu mengidolakan dan mengidam idamkan nya kini berbalik pada membenci dan menjauhinya. Para pemuda yang dulu selalu menunggu kehadirannya kini malah menutup pintu rapat-rapat akan kehadirannya. Bahkan kini PEMUDA: Mush’aib terpenjara dirumah ibunya dengan pintu yang terkunci rapat.


Terhadap hal ini Rasulullah SAW berkata:


”Dahulu saya melihat Mush’ab ini tak ada yang mengimbangi dalam memperoleh kesenangan dari orang tuanya, kemudidan ditinggalkannya semua itu demi cintanya kepada Allah dan Rosulnya”.


Cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya yang membuat pemuda Mush’aib berani meninggalkan segala kesenangan duniawi menuju keridhaan Allah. 


Suatu revolusi diri setelah Syahadat dikumandangkan. Dengan syahadat yang dikumandangkan, tershibghahlah diri Mush’aib dengan shibghah (celupan) Allah. Cinta mati kepada ibunya, kini berubah menjadi cinta yang totalitas kepada Allah dan Rasulnya. Syahadat yang sanggup memutuskan tali ikatan kekerabatan, keduniaan, kesenangan, dan popularitas, jika harus mempertahankan tali ikatan keislaman. 


[2:138] shibghah (celupan) Allah. Dan siapakah yang lebih baik shibghah (celupan) nya dari pada Allah? Dan hanya kepada-Nya-lah kami menyembah. (AL BAQARAH (Sapi betina) ayat 138)


[2:207] Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.

Saudara-saudaranya sesama muslim diluar rumah “kurungan” Muhs’aib merencanakan strategi pelarian. Setelah lama rencana disusun, akhirnya Mush’aib berhasil mengelabui ibunya dan para penjaga-penjaganya. Hingga Mush’aib dipilih menjadi salah satu utusan ke Etiopia (habsyi) untuk melaksanakan program dakwah diluar Negara Hijaz.


Kepulangan dari Habsyi (Etiopia), Mush’aib disambut Ibunya dengan kemarahan luar biasa. Hingga hendak mengurungnya lagi. Namun kini Mush’aib semakin mantap, malah menantang ibunya. Hingga ibunya mengancam akan menyuruh orang-orang suruhannya untuk membunuh anaknya sendiri. 


Mush’aib kini bukanlah Mush’aib dahulu, Mush’aib kini adalah Mush’aib yang sudah tercelup dengan celupan Allah (Shibghatullah). Ancaman bunuh dari ibunya sendiri tidak sedikitpun membuat dirinya gentar. Ibunya yang melihat anaknya kini yang sudah berubah 180 derajat, kini putus asa meluluhkan anak kesayangannya sendiri. Akhirnya ia lepas anaknya dengan cucuran air mata kesedihan.


Mush’aib pun berlinang air mata. Ucapan perpisahan penuh haru yang diucapkan Mush’aib menguap kelangit tanpa berbalas satu katapun dari ibunya. SUBHANALLAH
»»  SELENGKAPNYA...

Minggu, 05 Februari 2012

:: Ibrahim AS, Pemuda Ideal || waiman cakrabuana

Rasulullah SAW bersabda dalam hadits Abdullah bin Mas’ud ra, “Tidak akan beranjak kaki anak Adam pada Hari Kiamat dari sisi Rabbnya sampai dia ditanya tentang 5 (perkara) : Tentang umurnya dimana dia habiskan, tentang masa mudanya dimana dia usangkan, tentang hartanya dari mana dia mendapatkannya dan kemana dia keluarkan dan tentang apa yang telah dia amalkan dari ilmunya”. (HR. At-Tirmizi)

Setiap kita akan dimintai pertanggung jawabannya oleh Allah berkaitan dengan “masa muda”. Bagaimana engkau pergunakan masa mudamu itu?. Tidak sedikit manusia yang menggunakan masa mudanya sebagai masa untuk berhura-hura, berpoya-poya, bahkan ditenggelamkan dalam pesta narkoba atau pergaulan bebas (naudzu billah).

Ibrahim AS adalah sosok Pemuda yang ditampilkan Al-Qur’an sebagai uswah (contoh) terbaik dalam menghabiskan masa mudanya dalam limpahan kasih sayang Allah Ar-Rahman. Kisah Ibrahim muda ini dicatat dalam QS Al-Anbiya (21) ayat 51-70.

PEMUDA YANG TERCERAHKAN
Dan sesungguhnya telah Kami anugerahkan kepada Ibrahim hidayah kebenaran sebelum (Musa dan Harun), dan adalah Kami mengetahui (keadaan)nya. (QS Al-Anbiya (21):25)

Ibrahim As adalah pemuda yang dianugerahi Allah SWT “Hidayah Kebenaran”. Beliau hidup ditengah keluarga pembuat “patung berhala”, tetapi hidayah kebenaran yang telah menerangi jiwanya, sehingga jiwanya mampu menentukan kesalahan bapaknya si pembuat berhala dan bahkan mampu menemukan akar kesalahan itu dari “penguasa tiran” Kerajaan Namrudz.

(Ingatlah), ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya: "Patung-patung apakah ini yang kamu tekun beribadat kepadanya?" (QS 21:26). Pernyataan ini adalah pernyataan tegas dari insan yang telah “tercerahkan” jiwanya dengan tauhid hingga mampu menemukan dan menunjukan kesyirikan massal suatu bangsa. Kersyirikan “nasionalisme” yang dilambangkan oleh patung-patung made in Azzar sebagai bapaknya sendiri.

Kejernihan akaldan hatinya, sanggup menerobos tradisi syirik bangsanya yang telah terjadi berabad abad lamanya. Mendobrak tradisi-tradisi jahiliyyah yang sudah menjadi akar budaya di masyarakat. Perhatikanlah dialog Ibrahim dengan kaumnya:

[21:53] Mereka menjawab: "Kami mendapati bapak-bapak kami menyembahnya".
[21:54] Ibrahim berkata: "Sesungguhnya kamu dan bapak-bapakmu berada dalam kesesatan yang nyata".
[21:55] Mereka menjawab: "Apakah kamu datang kepada kami dengan sungguh-sungguh ataukah kamu termasuk orang-orang yang bermain-main?"
[21:56] Ibrahim berkata: "Sebenarnya Tuhan kamu ialah Tuhan langit dan bumi yang telah menciptakannya: dan aku termasuk orang-orang yang dapat memberikan bukti atas yang demikian itu".


Sikap kritis Ibrahim adalah implikasi jiwa yang tercerahkan dengan Tauhidullah.

PEMUDA YANG BERANI

Ibrahim muda bukan hanya sanggup berpikir kritis tetapi juga “berani karena benar”. Sikap kritis Ibrahim kepada kaumnya yang kolot, menuai ancaman serius [21:55]. Tetapi Ibrahim malah membuat langkah-langkah serius perlawanan [21:57], dirancanglah sebuah siasat gerakan perlawanan.

Langkah dan rancangan perlawanan Ibrahim bukan hanya rencana diatas kertas, tetapi sampai di implementasikan dalam langkah riil. Pemuda Ibrahim kemudian menghancurkan berhala-berhala kerajaan Namrudz, kecuali yang terbesar [21:58]. Simbol perlawanan serius mulai dilancarkan Pemuda Ibrahim.

Tentu langkah ini tak akan mampu dilaksanakan oleh manusia pengecut, yang takut ancaman dari penguasa tiranik. Langkah sarat resiko, penuh bahaya,… ditempuh Ibrahim sebagai Pemuda Pemberani. Ibrahim tidak memendam rasa takut sedikitpun kepada manusia. Yang ditakutinya hanyalah adzab Allah.


PEMUDA YANG REVOLUSIONER
Sebagaimana seluruh para Rasul, Ibrahim AS juga memiliki misi revolusi. Yaitu perubahan yang totalitas dan cepat. Suatu perubahan yang hendak meruntuhkan rezim tiranik Raja Namrudz. Didalam misi revolusi-nya, Ibrahim langsung pada akar persoalan yaitu TAUHID (bersifat radikal).

Ibrahim langsung menggemakan Laa Ilaaha Illallah kepada kerajaan tiranik Namrudz, tanpa menggunakan perantaraan ekonomi, social budaya, atau melalui partai politik. Ibrahim langsung menyerukan bahwa OTORITAS tertinggi membuat hukum hanya ada ditangan Allah SWT, bukan ditangan rakyat (demokrasi) atau dinasti raja (monarki) atau ditangan elite elite politik (Aristo demokrasi).

Gema dakwah Tauhid inilah yang secara langsung menyebabkan Namruda berang, karena hak OTORITAS-nya harus dilepaskan dan diserahkan kepada Allah SWT.

Perubahan yang diusung Ibrahim muda juga tidak dicicil dari beberapa sector secara berangsur. Tetapi suatu perubahan fundamental dari akarnya.

Ibrahim juga tidak menggunakan ‘lembaga – lembaga’ penyaluran aspirasi politik (seperti parpol) melalui parlemen Namrudziah. Bahkan secara dzahiriyyah Ibrahim memproklamirkan system masyarakat sendiri yang berpisah dari kerajaan Namrudz (60:4).

PEMUDA YANG BRILLIAN
Ibrahim mengemas misi dakwahnya dengan cerdas, bahkan ketika harus diadili dalam pengadilan kerajaan Namrudz.

Ketika pihak kerajaan mengetahui bahwa berhala-berhala mereka hancur berantakan. Mereka menye lidiki siapa pelaku penghancuran symbol symbol kenegaraan sembahan mereka itu?. Sampai akhirnya diduga bahwa pelakunya adalah “seorang pemuda yang bernama Ibrahim” [21:60].

Ibrahim dipanggil ke mahkamah pengadilan kerajaan dan disidang, sambil ditonton orang banyak (live) [21:61]. Mereka menyidik Ibrahim : “Apakah anda yang melakukan penghancuran berhala-berhala ini?” [21:62]. Ibrahim menjawab: “bukan!, tetapi berhala terbesar ini pelakunya. Tanyakan saja kepadanya!” [21:63].

Mereka menyadari bahwa berhala yang disembah itu tidak sama sekali terbukti membawa keuntungan bahkan berbicara saja tidak sanggup. Para petinggi kerajaan dan rakyat banyak yang secara live menonton persidangan itu tertunduk malu dan tersadar [21:63-64].

Saat itulah Ibrahim melancarkan pukulan telak dengan mengatakan : “Maka mengapakah kamu menyembah selain Allah sesuatu yang tidak dapat memberi manfa'at sedikitpun dan tidak (pula) memberi mudharat kepada kamu?” [21:66-67].

PEMUDA YANG TEGAR

Bukannya sadar dan bertobat, Raja Namrudz menutup rasa malu dan salahnya dengan mengeluarkan sebuah vonis hukum tertinggi yaitu “BUNUH”, dengan cara sadis yaitu dibakar [21:68].

Ibrahim menyadari konsekwensi revolusi yang akan menimpa dirinya. Dia tetap tegar menghadapi vonisan mati Raja Namrudz. Tidak ada penyesalan dan raut muka bersedih. Inilah kematian terindah yang dicita-citakan para pejuang kalam suci. Ibrahim akhirnya dibakar dalam api yang menggunung. Birunya api dan kepulan asap yang menggelembung seperti ombak terbang, hampir menggelapkan cuaca.

Allah kemudian berfirman kepada api “jadilah kamu dingin dan selamatkan Ibrahim!” , api-pun menjadi dingin. Ibrahim keluar dari kepungan api dengan selamat [21:69].
»»  SELENGKAPNYA...

Jumat, 13 Januari 2012

:: CINTA Berbalut kesabaran || waiman cakrabuana

Perintah Hijrah dikumandangkan Rasulullah SAW. Bergeraklah ummat Islam menuju kota yang diisyaratkan Rasulullah, yaitu Yatsrib (Madinah). Ummu Salamah beserta suaminya tidak ketinggalan, menunaikan seruan suci Rasulullah SAW. Sambil mengais anaknya, Ummu Salamah dan suaminya bergerak menuju Yatsrib.

Rupanya perjalanan jauh ke tanah Yatsrib bukanlah tanpa resiko. Di tengah jalan, sekelompok Bani Makhzum mencegat mereka. Dengan penuh kebencian Gerombolan Bani Makhzum itu merebut dan memisahkan Ummu Salamah dan anaknya dari suaminya. Ummu Salamah dan anaknya menjadi tawanan Bani Makhzum dan ditahan di Makkah, sementara suaminya (dengan penuh kesedihan), meneruskan perjalanan menuju Madinah.

Di Makkah, anaknya Ummu Salamah ditawan dan dipisahkan dari Ummu Salamah. Tinggalah Ummu Salamah seorang diri dengan penuh keperihan karena dipisahkan dengan paksa dari suami dan buah hatinya. Hari demi hari betul betul menusuk hati Ummu Salamah di bawah penjagaan ketat Bani Makhzum terhadapnya. Tiada kabar sedikitpun tentang keberadaan suami dan anaknya.

 Ummu Salamah melalui hari hari dengan penuh kesabaran tanpa penyesalan dan umpatan sedikitpun, ia sadar ini adalah cobaan dari Sang Pencipta karena keteguhannya dalam menjalankan perintah Allah SWT.
Gelora cinta kepada suami dan anaknya membara lebih panas daripada api yang menghanguskan hutan rimba. Tetapi sikap mental prima penuh kesabaran menempanya untuk tetap teguh. Do’a dan harapan menjadi hiasan setiap waktunya; “CINTA BERBALUT KESABARAN” subhanallah.

Do’a dan harapan Ummu Salamah naik meniti tangga amal shalehnya hingga arasy Allah.

 rasa iba dari Bani Makhzum, setelah lama menawan Ummu Salamah dengan penderitaannya. Hingga suatu hari mereka mengijinkan Ummu Salamah untuk pergi dan melepas penahanannya. Bahkan anaknyapun dipertemukan dengan Ummu Salamah. Pergilah Ummu Salamah menyusul suaminya yang telah pergi ke Yatsrib.
Di Yatsrib air mata Ummu Salamah menetes penuh haru tatkala bertemu dengan suaminya. Haru dan rasa senang tiada tara tertumpah ruah. Hangatnya cinta Ummu Salamah terhadap keluarganya menampilkan drama indah penuh keharuan dalam salah satu episode hidupnya.

Abu Salamah (suami Ummu salamah), tentu lebih berbahagia lagi. Dia mendapat istri yang mendampinginya dengan penuh cinta dan kesabaran. Tetapi Cinta Abu Salamah terhadap istrinya tidak melebihi cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya. Hingga ketika terompet perang Uhud di tiup, Abu Salamah tanpa ragu keluar rumah dan meninggalkan istrinya maju ke medan tempur.
_____
 
Abu Salamah pulang Dari medan tempur Uhud dengan luka luka parah, hingga membengkak. Disaat Ummu Salamah dengan telaten mengobati luka parahnya, Abu Salamah berkata: “Wahai Ummu Salamah! Aku mendengar Rasulullah bersabda: “Apabila seseorang terkena musibah, hendaklah ia mengucapkan innâ lillâhi wa innâ ilaihi râji’ûn.” Kemudian, Abu Salamah menambahkan: “Ya Allah, kukembalikan kepadamu seluruh musibah yang mengenaiku. Ya Allah, berikanlah kepada istriku yang lebih baik dari diriku.”

Angin dingin berhembus pelan mengiringi kematian suami tercinta. Tetapi Ummu Salamah berkata: “Tidak ada lelaki yang terebaik selain Abu Salamah, sehingga tidak aka yang sanggup menggantikan Abu Salamah yang telah tiada”.
Ummu Salamah juga mengatakan bahwa ia pernah mendengar Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda : "Seseorang yang tertimpa musibah lalu ia berkata : inna lillahi wa inna ilaihi raji’un dan berdoa : Allahuma jurnii fi musibatii wakhluf liya khairan minhaa (Ya Allah berilah aku pahala dalam musibah ini dan gantikanlah untukku dengan yang lebih baik daripadanya). Niscaya Allah akan memberinya pahala karena musibah itu dan menggantikan untuknya dengan yang lebih baik." (HR. Muslim 3/37-38). Tatkala Abu Salamah (suaminya) meninggal, dia mengucapkan apa yang dikatakan Nabi Shalallahu ‘alaihi wa salam.

Setelah masa berkabung karena ditinggal suaminya, Ummu Salaamah didatangi Abu Bakar untuk dilamarnya, Ummu Salamah menolaknya. Begitupun ketika Umar Bin Khathab datang dengan maksud yang sama, sikap Ummu Salamah adalah sama yaitu menolak lamaran Umar.
Kemudian, giliran Rasulullah datang melamar Ummu Salamah dan ia pun menjawab: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku mempunyai tiga sifat kekurangan. Pertama: aku seorang wanita pencemburu, oleh karena itulah aku takut engkau melihat kekurangan itu dariku sehingga membuatmu marah dan Allah akan mengazabku. Kedua: aku seorang wanita lanjut usia . Dan, ketiga: aku seorang janda yang sudah mempunyai anak.”

Mendengar alasan tersebut, Rasulullah bersabda: “Adapun yang engkau uraikan tentang kecemburuanmu, maka sesungguhnya aku berdoa kepada Allah agar dihilangkan-Nya sifat cemburumu itu. Adapun alasan karena engkau sudah lanjut usia, maka sesungguhnya aku sama sepertimu. Dan, adapun karena engkau seorang janda yang sudah mempunyai anak, maka sesungguhnya anakmu adalah anakku juga.”

Rasulullah pun menikah dengan Ummu Salamah. Dan, Allah telah mengabulkan doa Ummu Salamah serta mengganti untuknya dengan yang lebih baik, yaitu Rasulullah suri teladan umat manusia. “CINTA YANG BERBALUT KESABARAN” subhanallah. Allah ganti Abu salamah yang syahid dengan Muhammad SAW yang penghulu syuhada. Inilah buah dari kesabaran. Dengan sabar maka derita akan diganti dengan yang lebih baik.

Cinta Ummu salamah pun tertumpah ruah kepada suaminya yang baru yaitu kepada Muhammad SAW, dan ia tetap sabar membela dan mencintai suaminya.
»»  SELENGKAPNYA...